Keuntungan Mencapai Rp23 T di 2017, BCA Masih Ada Keuntungan Tertunda
Ekonomi

Keuntungan Mencapai Rp23 T di 2017, BCA Masih Ada Keuntungan Tertunda

Spread the love

Keuntungan Mencapai Rp23 T di 2017, BCA Masih Ada Keuntungan Tertunda

Ekonomi – PT Bank Central Asia Tbk atau BCA mencatat laba bersih menjangkau Rp23, 3 triliun selama 2017, tumbuh 13, 1 % dari Rp20, 6 triliun pada 2016. Perkembangan itu, sedikit melambat di banding 2016 yang menjangkau 14, 4 %.

Keuntungan Mencapai Rp23 T di 2017, BCA Masih Ada Keuntungan Tertunda

Melambatnya perkembangan laba itu, berbanding terbalik dengan membaiknya perkembangan penyaluran credit perseroan di th. kemarin. Th. lantas, BCA membukukan credit tumbuh 12, 4 % (yoy) jadi Rp468 triliun, lebih tinggi di banding 2016 yang cuma tumbuh 7, 3 % (yoy).

Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja menerangkan, perkembangan laba 2017 yang lebih rendah dibanding 2016 berlangsung karna penyaluran credit bank baru meroket mendekati akhir th..

Terdaftar, perkembangan credit BCA kuartal III 2017 baru sebesar 5, 7 % (yoy). Hal semacam ini buat pendapatan bunga dari credit itu belum juga masuk kantong perusahaan ketika tutup buku 2017, hingga belum juga juga berikan sumbangan pada laba bersih.

” Perkembangan credit kami di ujung th. tempo hari, walau sebenarnya pendapatan bunga itu dampak besarnya dari credit yang telah di ambil selama th.. Sedang kami baru naik di ujung, jadi belum juga segera masuk serta terlihat, ” tutur Jahja pada CNNIndonesia. com selesai paparan kemampuan perusahaan, Kamis (8/3).

Jahja mengharapkan, pendapatan bunga dari lonjakan credit pada kuartal IV 2017 dapat dirasa BCA pada th. ini, hingga laba bersih pada th. ini bisa bertambah lebih tinggi.

Sesaat apabila dibedah, sumbangan laba bersih th. tempo hari masih tetap didominasi oleh perkembangan pendapatan bunga bersih yang menjangkau Rp41, 8 triliun atau tumbuh 4, 1 % dari th. terlebih dulu.

Meskipun demikian, pendapatan operasional yang lain sesungguhnya tumbuh lebih tinggi, yakni menjangkau 11, 5 % jadi Rp15, 1 triliun pada 2017. ” Perolehan kemampuan di th. 2017 searah dengan perkembangan credit serta Dana Pihak Ke-3 (DPK), terlebih pada giro serta tabungan, ” tuturnya.

Lantas, dari bagian perkembangan credit menjangkau 12, 4 % didukung oleh credit korporasi yang tumbuh 14, 5 % jadi Rp177, 3 triliun. Dibarengi credit konsumer yang bertambah 12, 1 % jadi Rp122, 8 triliun.

Sumbangan beda datang dari Credit Pemilikan Tempat tinggal (KPR) yang tumbuh 14, 2 % jadi Rp73 triliun serta Credit Kendaraan Bermotor (KKB) bertambah 10 % jadi Rp38, 3 triliun.

Sedang kartu credit naik 6, 9 % jadi Rp11, 5 triliun, credit komersial dan Usaha Mikro, Kecil, serta Menengah (UMKM) bertambah 10, 3 % jadi Rp167, 5 triliun.

Dari bagian kwalitas credit, terdaftar rasio credit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) terkerek dari 1, 3 % jadi 1, 5 % pada th. ini. Walau membengkak, Jahja menilainya rasionya masih tetap sesuai sama kiat perusahaan. Angka NPL itu juga masih tetap ada dibawah industri yang ada di angka 2, 6 %.

” Yang perlu kami dibawah industri. Tapi bila dapat turun ya sukur, bila tidak ya paling tidak dipertahankan di 1, 5 % pada th. ini, ” tuturnya.

Th. lantas, BCA juga sudah membuat pencadangan credit sebesar Rp14, 6 triliun, cuma bertambah 5, 2 % dari 2016. Sekarang ini, rasio pencadangan credit bermasalah sebesar 190, 7 %.

Di bagian beda, DPK perseroan th. lantas tumbuh 9, 6 % jadi Rp581, 1 triliun dengan peran dari dana giro serta tabungan (Current Akun and Savings Akun/CASA) sekitaran 76, 3 %. Giro tumbuh 9, 7 % jadi Rp151, 3 triliun serta dana tabungan naik 8, 2 % jadi Rp292, 4 triliun.

Sesaat, rasio credit pada pendanaan sebesar 78, 2 % serta rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) menjangkau 23, 1 %.

Berikan Komentar Anda