Polemik Puisi Fadli Zon Apakah Benar Sindir Mbah Moen
News

Polemik Puisi Fadli Zon Apakah Benar Sindir Mbah Moen ?

Spread the love

Polemik Puisi Fadli Zon Apakah Benar Sindir Mbah Moen ?

InfoJamanNow.com – Wakil Ketua DPR RI, Fadli Zon kembali menimbulkan polemik. Puisi Fadli Zon yang diberi judul “Doa yang Ditukar”, terinspirasi dari hebohnya insiden Kiai Haji Maimun Zubair alias Mbah Moen yang salah menyebut nama saat berdoa di samping Capres nomor urut 1.

Dalam puisi itu, Fadli Zon menyinggung soal doa yang sakral, agama yang diobral hingga kepemimpinan.

“Doa sakral, seenaknya kau begal, disulam tambal, tak punya moral, agama diobral, “begitu bunyi bait pertama pada puisi Fadli Zon itu.

Polemik Puisi Fadli Zon – Pada bait kedua, Fadli Zon menuliskan kata ‘kau’ dalam puisi tersebut.

“Doa sakral, kenapa kau tukar, direvisi sang bandar, dibisiki kacung makelar, skenario berantakan bubar, pertunjukan dagelan vulgar,” lanjut Fadli.

Kata ‘kau’ di bait kedua inilah yang menimbulkan beberapa komentar dari warganet, termasuk para tokoh nasional.

Baca Juga : Mak Vera Sering Berjudi Pakai Uang Pengobatan Olga

Fadli Zon sendiri telah membantah bahwa sosok “Kau” dalam puisinya bukanlah Mbah Moen, ada baiknya jika ia tidak melakukan sesuatu yang dapat memperkeruh dan memperpanas suasana, terlebih saat menjelang Pilpres 2019.

Sebagai wakil rakyat sekaligus tokoh politik yang juga berperan dalam memberikan edukasi kepada masyarakat, hendaklah Fadli meliterasi publik dengan materi – materi yang menenangkan dan membawa kedamaian serta persatuan rakyat. Jangan justru memancing keributan yang dapat mengganggu pelaksanaan Pemilu.

Kesalahan yang diucapkan Kiai Maimun Zubair atau Mbah Moen saat memanjaatkan doa seharusnya tidak perlu dipolitisasi atau bahkan ditanggapi dengan puisi nyinyir yang terkesan melecehkan seorang ulama.

Bagaimanapun juga, selain sebagai guru dan tauladan, Kiai adalah simbol kehormatan para santri. Kiai tidak hanya simbol kehormatan, tapi juga spirit bahkan jiwanya para santri. Banyak santri kecewa dan marah jika kiainya dilecehkan seperti dalam puisi Fadli Zon.

Berikan Komentar Anda